Tommy: Gelar Pahlawan bagi Soeharto, Terserah Publik

Written by AskIndonesia.com on March 1, 2010

Menyambut peringatan 61 tahun Serangan Oemoem 1 Maret 1949, di Yogyakarta digelar seminar yang membahas mengenai peristiwa sejarah. Acara yang berlangsung di Monumen Jogja Kembali, Yogyakarta, Senin (1/3/2010) tersebut juga diwarnai dengan peluncuran buku berjudul “Soeharto Jenderal Besar dari Kemusuk”.

Acara tersebut, dihadiri oleh tokoh-tokoh yang terlibat lansung dalam Serangan Oemoem 1 Maret. Para saksi sejarah tersebut antara lain Soekotjo, Kunto Wibisono dan saksi lain.

Dari para tokoh saksi sejarah yang sudah dikenal oleh publik antara lain, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu menjabat menteri koordinator pertahanan dan keamanan sebagai pemrakarsa, Kolonel Bambang Sugeng dan Komandan Wehrkreise III Letkol Soeharto yang bertindak sebagai pelaksana serangan.

Nampak hadir juga Probosutedjo, pengusaha yang juga adik tiri Soeharto, dan tak lupa putra bungsu Soeharto Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Selain tokoh-tokoh tersebut, hadir pula para praktisi akademis, diantaranya Prof Dr Suhartono W. Pranoto, Guru Besar ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), yang bertindak sebagai pembicara utama seminar tersebut.

Tommy dalam kesempatan itu menyebut bahwa hasil seminar yang dihadiri para tokoh pelaku yang terlibat langsung membuktikan Soeharto termasuk sebagai pemera Serangan Oemoem 1 Maret.

spacer Tommy: Gelar Pahlawan bagi Soeharto, Terserah Publik

“Saya kira, nggak ada yang menentang itu. Dan semua sepakat hasil Serangan Oemoem tersebut sangat menentukan keberadaan bangsa dan negara saat itu,” tutur calon Ketua Umum Golkar yang dikalahkan Aburizal Bakrie dalam Munas Golkar kemarin

Tommy juga mengucapkan terimakasih kepada para peserta seminar dan saksi hidup yang mengakui Soeharto sebagai pemrakarsa serangan tersebut.

“Saya berterima kasih. Kalau dulu masih ada kontroversi atau belum jelas. Kalau pemrakarsa (serangan Oemoem 1 Maret), saya kira semua pihak memang terlibat, tidak mungkin satu atau dua orang yang memrakarsai. Ada yang di bidang politik, militer dan lain-lain dan sekarang sudah jelas,” katanya.

Mengenai kemungkinan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto, Tommy menyatakan dia maupun keluarga tak pernah meminta gelar pahlawan kepada Soeharto. Tommy juga tidak mempermasalahkan bentuk penghargaan terhadap Soeharto.

Tommy mengaku menyerahkan keputusan pemberian gelar tersebut kepada rakyat Indonesia. Menurutnya rakyat Indonesia lebih berhak menentukan masalah tersebut.

“Keluarga tidak bisa mengusulkan (gelar pahlawan untuk Soeharto). Yang berhak mengusulkan itu masyarakat sendiri,” kata Tommy.


Copyright, respective author or news agency

Leave a Comment